Pusisi Jalanan Bagian 1 – Kaca Mobil Dinas Harian
Termenung di sudut kaca belakang,
hari-hari pertamanya di perantauan.
Tiada lagi dilihatnya empang-empang,
serangga yang dulu dianggapnya kawan.
Tangannya mengepal, penuh dendam,
menahan segala guncangan aspal jalan.
Parasnya lantas pucat, keringat tertahan.
Oh, Wulan, rupanya kau mabuk
perjalanan.
-Senin, 31 Juli 2023, di kursi sopir mobil dinas harian-
Kumpulan puisi jalanan soal hidup, konflik batin, keresahan kelas pekerja, romantisasi, dan kritik sosial, ditulis secara mentah, dan personal – Ahmad Imanuddin
