Posted inBlog / Musik

Kraken Rilis Album Ke-2 Bertajuk “Kaliyuga”: Amarah Zaman yang Semakin Riuh dan Kontradiktif Dalam Balutan Metal

Kraken Rilis Album Ke-2 Bertajuk “Kaliyuga” Amarah Zaman yang Semakin Riuh dan Kontradiktif Dalam Balutan Metal

VisualNusantara – Band metal asal Bogor, Kraken, kembali dengan album kedua bertajuk Kaliyuga, rilisan yang sejak awal sudah diposisikan sebagai respons atas zaman yang semakin riuh dan kontradiktif.

Di tengah skena metal lokal yang makin beragam, dari yang teknikal hingga eksperimental, Kraken memilih tetap berada di jalur yang lugas: keras, langsung, dan sarat pesan.

Namun Kaliyuga tidak berhenti sebagai pelampiasan amarah semata. Album ini mencoba merangkai narasi yang utuh, tentang kesadaran, konflik, hingga perlawanan. Ambisi tersebut terasa jelas, meski dalam praktiknya, tidak semua bagian mampu menjaga intensitas yang sama kuat.

Narasi Besar Lewat Distorsi tebal, Riff Agresif, dan Vokal yang Penuh Tekanan

Dibuka lewat “Awakening”, Kraken langsung mengunci arah musikal mereka. Distorsi tebal, riff agresif, dan vokal Borie yang penuh tekanan menjadi pintu masuk yang efektif. Tidak ada basa-basi, lagu ini berfungsi sebagai pemantik sebelum album bergerak ke wilayah yang lebih konseptual.

Masuk ke “Fatamorgana”, nuansa mulai bergeser. Di sini, Kraken mencoba menggambarkan konflik batin yang berkembang dari kesadaran awal menuju realitas sosial yang lebih keras. Transisi ini terasa mulus secara struktur, tapi mulai memperlihatkan kecenderungan utama album: terlalu gamblang dalam menyampaikan pesan.

Judul Kaliyuga sendiri mengacu pada kondisi zaman yang “ditandai oleh kemunduran etika dan moral.” Premis ini terus diulang dalam berbagai bentuk.

“Kalam Menikam” berbicara tentang bertahan di tengah tekanan, sementara “Manipocalypse” dan “Retorika Tirani” mengarah pada kritik kekuasaan—menyoroti “rusaknya moral penguasa” serta bagaimana bahasa dipakai sebagai alat dominasi.

Masalahnya bukan pada temanya, melainkan pada cara penyampaiannya. Banyak lirik terasa terlalu literal, seolah tidak memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan. Kritik sosial yang seharusnya tajam justru terasa seperti pernyataan langsung tanpa lapisan.

Meski begitu, ada pengecualian. “Parade Genosida” menjadi salah satu titik paling kuat dalam album ini. Di lagu ini, agresi musikal dan tema kekerasan sistematis berjalan beriringan dengan lebih natural—tidak terasa dipaksakan.

Kraken Rilis Album Ke-2 Bertajuk “Kaliyuga” Amarah Zaman yang Semakin Riuh dan Kontradiktif Dalam Balutan Metal
Band metal asal Bogor, Kraken, kembali dengan album kedua bertajuk Kaliyuga, rilisan yang sejak awal sudah diposisikan sebagai respons atas zaman yang semakin riuh dan kontradiktif.

Produksi Rapi, Intensitas Terkendali

Secara produksi, Kaliyuga menunjukkan kematangan dibanding rilisan sebelumnya. Gitar Arie dan Firdi dibangun dengan tone yang solid, padat, konsisten, dan cukup tajam tanpa kehilangan definisi. Section rhythm dari Hilman dan Fahmi menjaga fondasi tetap stabil, meski jarang keluar dari pola yang sudah bisa diprediksi.

Pendekatan produksi di album ini cenderung bersih dan terkontrol. Tidak ada kesan mentah yang berlebihan, tapi juga tidak benar-benar “liar”. Ini membuat Kaliyuga mudah dinikmati, namun sekaligus mengurangi rasa urgensi yang biasanya jadi kekuatan musik metal.

Beberapa bagian bahkan terasa terlalu aman. Struktur lagu bergerak dalam pola yang familiar: build-up, breakdown, lalu kembali ke riff utama. Formula ini bekerja, tapi jarang mengejutkan.

“Labirin” mencoba memberi jeda dengan nuansa yang lebih reflektif, membuka ruang sebelum kembali ke intensitas tinggi. Sementara “Paradigma” sedikit bermain dengan dinamika, meski belum cukup jauh untuk dianggap eksploratif.

Di penutup, “Belati Neraka” berfungsi sebagai klimaks yang gelap—menggabungkan amarah dan konsekuensi dari dunia yang kehilangan arah. Secara konsep, ini penutup yang tepat, meski secara musikal masih mengikuti pola yang sudah dibangun sejak awal.

Konsistensi Kraken Lewat Pesan Sosial

Sejak debut Circle of Life (2019), Kraken menunjukkan konsistensi dalam identitas mereka. Mereka bukan band yang mencoba mengikuti tren, juga bukan yang bereksperimen terlalu jauh. Kaliyuga mempertegas posisi itu: band metal dengan semangat kolektif dan pesan sosial yang jelas.

Dalam konteks skena metal Indonesia hari ini, posisi tersebut bisa dilihat sebagai kekuatan sekaligus keterbatasan. Di satu sisi, Kraken punya arah yang tegas. Di sisi lain, mereka belum sepenuhnya mendorong batas musikal mereka.

Formasi yang terdiri dari Borie (vokal), Arie dan Firdi (gitar), Hilman (bass), serta Fahmi (drum) bekerja solid sebagai unit. Tidak ada yang benar-benar menonjol secara individual, tapi justru itu yang membuat identitas band tetap terjaga.

“Melalui Kaliyuga, Kraken menegaskan album ini sebagai pernyataan sikap terhadap zaman, manusia, dan pentingnya kesadaran di tengah kekacauan.” Pernyataan ini terasa konsisten dengan isi album, meski eksekusinya belum sepenuhnya tajam.

Kaliyuga adalah album yang jelas dalam niat, tapi masih mencari bentuk paling efektif dalam penyampaiannya. Ia punya energi, punya arah, dan punya pesan yang relevan. Namun di saat yang sama, terlalu sering bermain aman, baik dalam lirik maupun aransemen.

Kraken belum kehilangan daya pukulnya, tapi juga belum sepenuhnya memaksimalkannya. Untuk saat ini, Kaliyuga berdiri sebagai langkah solid—bukan lompatan besar.

Full time machine traveller.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *