Visual Nusantara – Seperti biasa, kami sering janjian untuk makan siang selepas sholat Jum’at. Warung makan Bunda kerap jadi solusi, pemadam kelaparan anak kost.
Ya warung makan masakan Padang yang cukup nikmat, murah, dan paling dekat dari kosan kami. Seperti makan di teras rumah sendiri, tapi ya bayar. Gitu aja.
RM Padang Bunda, dan tiga pramusajinya. Mbak Nur, Mbak Mar, dan Mbak War.
Telur dadar Padang, selalu jadi incaran kami bertiga. Telur dadar setebal buku ukuran 500 halaman, berisi sayur mayur, dengan rasa cukup asin, dan sedikit pedas.
Banyak juga lauk lain yang jadi favorit pelanggan disana. Rendang, ayam bakar, ikan bakar, dan ikan asam. Aku lupa persisnya, karena aku cuma bisa makkan dua menu saja.
Telur dadar, dan rendang plus bumbunya. Tanpa kuah (selain kuah rendang), apalagi menu lain dengan visual yang terlalu seni, dan aroma yang terlalu menyumpal hidungku.
Kami lebih sering memesan menu dadar via chat WA, karena tiap Jum’at pasti selalu kehabisan.
Ya, warung makan Bunda selalu kebanjiran order Jum’at berkah dari beberapa jamaah masjid, dan atau warga sekitar.
Sesampainya, kami melihat antrian bapak-bapak sudah cukup panjang. Sekitar 10 orang sudah siap menggenggam piring. Ammar dan Indmas kemudian ikut mengantre.
Sementara aku pergi untuk membeli gado-gado. Sebagai side dish, biar gak terlalu kecewa dan bisa jadi lauk pengganti bilamana kehabisan jatah telur dadar.
Syukurnya, masih ada satu loyang telur dadar yang memang sengaja disimpan untuk stok terakhir hari itu.
Ammar dan Indmas makan lebih dulu. Aku baru tiba dengan seporsi gado-gado. Sambil mengambil piring, aku maju ke etalase untuk mengambil dadar dan kuah rendang.
Isi Kepala Bangsat
Mbak War: Udin kamu makan pakai apa?
Udin: Biasa telur dadar ada? Kalo nggak ada, pake rendang aja sama daun singkong.
Mbak Mar: Ada ko, ini masih ada satu loyang. Kamu ambil aja sendiri.
Tak berapa lama, seorang bapak menghampiri kasir.
Bapak: Itung mbak. Berapa semuanya, aku makan berdua ini ya. (Sambil menggenggam uang 100 ribu di tangannya).
Mbak War: Jadi semuanya 56 pak.
Bapak: Oh okey. Yaudah kalo gitu sisanya ini buat anak-anak saja. Bayar pake ini kalau masih cukup. Ayok, duluan mas!
Mbak War: Masih ada 44 ribu ya pak.
Mendengar itu. Entah kenapa di kepala seperti ada yang berbisik dengan nada berapi-api.
“Udah, jangan kuah rendang doang. Ambil aja sama dagingnya. Masih ada kembalian. Bisalah itu kebagian.”
Tapi, aku juga yakin se yakin yakinnya, 1000%, isi kepalaku sama dengan mereka. Atau bahkan lebih ekstrim. Hahahahaha
Padahal Bapak itu, tak begitu mengenal aku dan Indmas. Ia hanya akrab dengan Ammar, karena mungkin sudah pernah dikenalkan oleh Yoga. Ya teman satu kos, yang pernah bekerja jadi guru les di tempat usaha bapak itu.
Tiba-tiba saja…
Ammar: Din, telurnya panas?
Udin: Enggak. Udah dingin pak. (Sambil mencolek-colek pantat dadar yang sedikit gosong)
Mbak, nambah dadar satu deh……
Kami kemdian menyantapnya dengan lahap. Piring milik Indmas bahkan sampai bersih dan kinclong. Nikmat!
Acap kali kami mendengar obrolan seronok segerombolan bapak-bapak yang kerap menggoda salah satu pramusaji. Mbak Nur. (Mbak-mbak bercahaya).
Aku saling senggol kaki dengan Indmas, tiap kali bapak dua itu melempar canda ke Mbak Nur.
Mbak Nur: Eh bang Udin, kemarin rumah aku kebanjiran. Kok kamu gak datang menolong?
Bapak Udin: Ah! Semana banjirnya. Semana banjirnya? Sepaha, atau se-Dada. (Sambil tertawa dengan bapak-bapak lain.
Mbak Nur: Ah Bisa aja.
Mbak War: Dia itu kalo banjir maunya digendong bang Udiiinnn.
Mbak Nur lalu bergegas pergi, mengenakan daster motif bunga, naik sepedah ontel miliknya. Dengan wajah centil, ia berangkat membeli tisu. Eaaah!!
Tibalah waktunya! Berhitung
Berhitung, kata si Mbak War. Kebetulan masih ada sisa kembalian si bapak itu. Aku yakin, semua pasti ingat.
Dunia mulai berputar. Geopolitik harap bersabar. Kelas teri mau lewat. Bukan kebetulan lagi ini mah. Presiden Venezuela saja bisa ditangkap Amerika. Apalagi cuma telur dadar!
Mbak War: Berhitung ya. Ini masih ada kembalian si bapak, 44 ribu. Nanti dibagi tiga aja.
Dibaca dari urutan duduk, kiri ke kanan, Ammar, Indmas, Udin.
Dengan ekspresi paras wajah sumringah dan senyum penuh makna, Ammar dapat giliran pertama.
Ammar: Telur. Telur dadar.
Mbak War: Kamu telurnya dua?! (Dengan logat Madura, separuh terbelalak di depan kalkulator karce milik Bunda)
Ammar: Iya. Telur. Telur dadar. Dendeng merah. Kerupuk. Eh sama nasi, nambah nasi setengah. (Wajahnya mulai memerah, menahan kekeh)
Mbak War: Ammar 39 riibu.
Indmas: Aku berapa mba. Nasi, telur dadar, sayur, sambal. (Dengan wajah sedikit panik)
Mbak War: Kamu 17. Wah kalau ini udah habis sama dia, sisa 5 ribu. (Sambil melirik Ammar yang sudah terbahak)
Sontak naik darah kawan satu ini. Hahaha
Indmas: Anjing. Bagaimana ini eee mau dibagi tigaaa. Sementara hitungan sudah habis sama dia. (Dengan logat Makassar, sambil beranjak menunjuk Ammar yang sedang tertawa lepas).
Ammar: Hahahahah. Yaudah kalau mau, kau aja yang bayar. Aku gak bawa dompet, gak bawa hape. Hahaha
Indmas: Wanjingg. Udah mah aing dapat bagian paling sedikit. Aing juga sekarang yang harus bayar. Bangsat emang! (Sedikit Sunda, tapi tetap logat Makassar)
Udin: Ikut terbahak. Hampir menyembur air panas yang ada di mulutnya.
Tiba-tiba lagi…
Indmas: Bagaimana kalau kau dipanggil, langsung mengentot.
Eh menengok maksudnya!
(Jakarta, Jumat 23 Januari 2026. 17.17 WIB)
