Menjilat Keringat
Sudah lama kurindukan
Peluh keringat
Yang lewat di antara garis pantat
Jangan munafik, coba saja kau ingat
Rasanya sungguh nikmat
Jerih payahmu terbayar tepat
Takkan habis energi
Untuk lakukan apa yang kau senangi
Dulu kulakukan sepenuh hati, tak terhenti
Roda nasib kini mulai kembali pada rotasi
Ribuan berhala berjajar jadi koleksi
Rupiah terus kubakar sebagai amunisi
Bukan, ini bukan perang sensasi
Tunggu sebentar, dua detik saja, Ivan, kuingin masturbasi
Aku sedang mencoba menjadi priyayi
Kata-kata itu yang selalu membuatku muak dengan hari ini
Aku bak intelek dengan segudang argumen basi
Yang akhirnya dikebiri oleh sepiring nasi
Lihat, sebentar lagi kuterkam batang lehernya
Kuhisap habis urat kemaluannya
Tunggu, tunggu, orang itu kan tak punya malu
Terlalu banyak pil pahit membuatnya semakin halu
Pernah kudaki gunung api purba
Dengan langkah kaki yang penuh cita-cita
Jangan sampai semua ini sirna
Terkubur di atas nisan dan taburan bunga kamboja
-Kamis, 3 Agustus 2023
Istana Negara, Pelabuhan Sunda Kelapa-
Kumpulan puisi jalanan soal hidup, konflik batin, keresahan kelas pekerja, romantisasi, dan kritik sosial, ditulis secara mentah, dan personal – Ahmad Imanuddin
