Posted inBlog

Puisi Jalanan Bagian 1 – Sepucuk Laras untuk Engkau yang Waras

Puisi-Jalanan-Bagian-1-Sepucuk-Laras-untuk-Engkau-yang-Waras

Sepucuk Laras untuk Engkau yang Waras

Sore itu rasanya begitu kosong
Namun kata seakan tak habis keluar dari benakku yang ompong

Perasaan di ambang waswas
Mencoba tetap berusaha menjadi waras
Di hadapan orang-orang tak berparas
Dengan tubuhnya yang kaku mengenggam sepucuk laras

Dering telepon berbunyi keras
Ah, rupanya kawan bangsat sudah siap bergegas
Resah menunggu di balik Mercy putih yang baru dibilas

Sepanjang jalan dia terus meracau
Mencoba masuk dengan ribuan senda gurau
Tak kugubris
Payah, aku kawan yang miris

Dibacanya bait puisi setengah jadi
Tepat di lubang telinga kiri
Anjing, lanjut aja, jangan berhenti
Ah, sudahlah, puisinya pun belum jadi

-Kamis, 3 Agustus 2023
Jalan gelap menuju Kantor Wali Kota-

 

Kumpulan puisi jalanan soal hidup, konflik batin, keresahan kelas pekerja, romantisasi, dan kritik sosial, ditulis secara mentah, dan personal – Ahmad Imanuddin

Full time machine traveller, looking for street food and bitchy beach.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *