Posted inFilm / Film Indonesia

Review Film Danur: The Last Chapter-Penutup Emosional Semesta Horor yang Tumbuh Bersama Penontonnya

Review Film Danur The Last Chapter-Penutup Emosional Semesta Horor yang Tumbuh Bersama Penontonnya

Visual Nusantara – Perkembangan film Danur menandai fase penting dalam perjalanan film horor Indonesia modern. Sejak kemunculan film pertamanya pada 2017, Danur berkembang dari kisah horor anak-anak menjadi semesta cerita yang lebih kompleks, emosional, dan matang.

Adaptasi dari novel karya Risa Saraswati ini berhasil membangun identitas tersendiri dengan memadukan unsur horor, drama keluarga, serta relasi manusia dan dunia tak kasatmata. Danur: The Last Chapter hadir sebagai bab penutup yang berusaha merangkum seluruh perjalanan tersebut dalam skala yang lebih besar dan pendekatan cerita yang lebih dewasa.

Sebagai film pamungkas, Danur: The Last Chapter tidak hanya mengandalkan nostalgia, tetapi juga mencoba menawarkan perspektif baru tentang karakter Risa yang telah tumbuh bersama penontonnya selama hampir satu dekade. Film ini sekaligus menjadi refleksi tentang perpisahan, penerimaan, dan keberanian menghadapi masa lalu.

Sinopsis: Risa Dewasa dan Teror yang Kembali

Cerita berfokus pada Risa yang kini telah dewasa dan berusaha menjalani kehidupan normal, jauh dari dunia supranatural yang sejak kecil melekat padanya. Ia mencoba menutup lembaran lama, termasuk kemampuannya melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Teror baru muncul dan memaksa Risa kembali berhadapan dengan dunia yang selama ini ingin ia tinggalkan.

Konflik yang dihadirkan terasa lebih personal dibanding film-film sebelumnya. Horor tidak lagi sekadar hadir sebagai ancaman eksternal, melainkan sebagai manifestasi dari pergulatan batin Risa dalam menghadapi identitas dan masa lalunya. Pendekatan ini membuat cerita terasa lebih emosional dan relevan, terutama bagi penonton yang telah mengikuti perjalanan karakter ini sejak awal.

Skala Produksi dan Ambisi Visual

Sebagai penutup semesta Danur, film ini menunjukkan peningkatan signifikan dari sisi produksi. Proses pengambilan gambar berlangsung dalam waktu yang panjang, hampir sembilan bulan, demi mencapai standar visual yang lebih tinggi. Rentang syuting yang dimulai sejak awal tahun hingga akhir tahun mencerminkan keseriusan tim produksi dalam memoles detail cerita, tata artistik, serta atmosfer horor yang lebih intens.

Pendekatan visual dalam film ini terasa lebih megah dan sinematik dibanding pendahulunya. Hal tersebut sejalan dengan rencana penayangan film ini di bioskop Indonesia, termasuk layar IMAX, pada Lebaran 2026. Skala produksi yang besar menjadi penanda bahwa Danur: The Last Chapter memang diposisikan sebagai klimaks dari seluruh rangkaian cerita.

Akting dan Beban Emosional Para Pemain

Totalitas para pemain menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Prilly Latuconsina kembali memerankan Risa dengan pendekatan yang lebih matang dan tenang, mencerminkan karakter yang telah lama hidup berdampingan dengan dunia supranatural. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menampilkan ketakutan secara subtil, mengingat Risa bukan lagi sosok yang asing dengan kehadiran makhluk halus.

Zee Asadel sebagai Riri versi dewasa menghadirkan dimensi fisik yang lebih intens dalam film ini. Banyaknya adegan dengan tuntutan fisik tinggi membuat perannya terasa menonjol, sekaligus memperkuat ketegangan cerita. Secara keseluruhan, akting para pemain berhasil menghidupkan beban emosional dari film penutup ini, bukan hanya sebagai horor, tetapi juga drama tentang perpisahan dan penerimaan.

Kesimpulan: Penutup yang Layak untuk Semesta Danur

Sebagai film terakhir, Danur: The Last Chapter berhasil menjalankan fungsinya sebagai penutup semesta dengan cukup solid. Film ini tidak hanya menyuguhkan teror, tetapi juga memberikan ruang refleksi bagi karakter dan penonton. Dengan cerita yang lebih dewasa, produksi berskala besar, serta pendekatan emosional yang kuat, film ini menjadi perayaan perjalanan panjang Danur dalam perfilman Indonesia.

Bagi penggemar lama, film ini terasa seperti perpisahan yang emosional. Sementara bagi penonton baru, Danur: The Last Chapter tetap dapat dinikmati sebagai film horor dengan narasi yang rapi dan atmosfer yang kuat. Sebuah penutup yang ambisius, sekaligus penanda penting dalam evolusi film horor lokal. (RM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *