Posted inSepakbola / Sports

Pelatih Manchester United yang Paling “Mengecewakan” dalam Sejarah Modern: Ada yang Sampai Ditinggal Tanpa Arah!

Pelatih Manchester United yang Paling “Mengecewakan” dalam Sejarah Modern Ada yang Sampai Ditinggal Tanpa Arah!

Visual Nusantara – Manchester United adalah nama besar yang identik dengan kejayaan. Namun, di balik lemari trofi yang penuh, ada satu bagian sejarah yang belakangan sering membuat fans mengelus dada: kursi pelatih.

Setelah Sir Alex Ferguson menutup era emasnya pada 2013, MU seperti kehilangan kompas. Pergantian pelatih bukan lagi soal membangun proyek jangka panjang, melainkan siklus berulang antara harapan besar dan akhir yang pahit.

Jika membahas “pelatih terburuk” MU, sebenarnya konteksnya bukan sekadar siapa yang paling minim trofi. Ada pelatih yang sempat memberi gelar, tetapi meninggalkan atmosfer ruang ganti yang retak. Ada juga yang datang dengan nama besar, namun gagal menerjemahkan idenya di lapangan.

Bahkan, beberapa pelatih “jatuh” karena satu laga yang menjadi titik balik paling brutal. Berikut daftar yang paling sering dianggap sebagai rekam jejak terburuk dalam perjalanan MU, baik karena hasil, gaya bermain, maupun efek domino yang ditinggalkannya.

1) David Moyes (2013–2014): Pewaris Ferguson yang Gagal Menjaga Standar

Ketika MU menunjuk David Moyes sebagai penerus Sir Alex, publik sempat percaya transisi akan berjalan mulus. Nyatanya, Moyes justru menjadi simbol awal runtuhnya dominasi United pasca-2013. Hasil buruk terjadi beruntun, termasuk rekor negatif di kandang yang sebelumnya sangat jarang muncul pada era Ferguson.

Prestasi yang sempat didapat

MU sempat meraih Community Shield 2013, tetapi itu lebih dianggap “bonus pembuka musim” ketimbang bukti proyek yang solid.

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* MU finis di posisi yang jauh dari target empat besar dan gagal menjaga status elite domestik.
* Moyes akhirnya dipecat setelah kurang dari semusim penuh, menandai start era “gonta-ganti pelatih” di Old Trafford. Media Inggris seperti The Guardian mengonfirmasi Moyes diberhentikan pada April 2014 setelah hanya 10 bulan bekerja.

2) Louis van Gaal (2014–2016): Punya Trofi, Tapi Sepak Bolanya Membosankan

Nama Louis van Gaal datang dengan aura pelatih elite Eropa. Secara reputasi, CV Van Gaal sulit dibantah. Namun di MU, pendekatannya yang sangat struktural dianggap membuat permainan Setan Merah kehilangan spontanitas.

Prestasi yang sempat didapat

* Van Gaal membawa MU juara FA Cup 2016, menjadi gelar utama pertama sejak Ferguson pensiun. ([Wikipedia][2])

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* Banyak laga berjalan lamban dan minim peluang bersih, memancing frustrasi suporter.
* Momen paling kontroversial: ia dipecat hanya dua hari setelah memenangkan FA Cup 2016. Media seperti Sky Sports menyebut pemecatan Van Gaal dikonfirmasi klub pada Mei 2016.

3) Frank O’Farrell (1971–1972): Konflik Ruang Ganti dan Tim Hampir Terdegradasi

Jika publik modern lebih mengenal era pasca-Ferguson, sejarah MU sebenarnya juga punya bab kelam jauh sebelumnya. Frank O’Farrell sering masuk daftar pelatih yang dianggap gagal karena situasi klub merosot tajam dalam waktu cepat, disertai drama internal yang mengganggu stabilitas.

Prestasi yang tercatat

* Tidak ada trofi besar yang melekat pada masa O’Farrell, dan ia gagal membangun ulang tim setelah fase kejayaan era sebelumnya.

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* MU terlibat dalam ancaman degradasi, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada klub sebesar mereka.
* O’Farrell diberhentikan pada Desember 1972 setelah kekalahan telak yang jadi “alarm merah”. Arsip musim 1972–73 mencatat ia dipecat usai kalah 5-0 dari Crystal Palace dan tim berada dalam bahaya degradasi.
* Situasi ruang ganti juga memburuk karena drama pemain bintang, termasuk kisah George Best yang sering dikaitkan dengan turbulensi masa itu.

4) José Mourinho (2016–2018): Trofi Banyak, Tapi Meninggalkan Ruang Ganti “Terbakar”

Di atas kertas, José Mourinho adalah jaminan mental pemenang. Di MU, ia memang sempat memenuhi ekspektasi secara instan lewat trofi. Namun, gaya kepemimpinannya yang konfrontatif membuat periode ini punya dua wajah: sukses di awal, runtuh di akhir.

Prestasi yang sempat didapat

* Mourinho mempersembahkan Europa League 2017 dan EFL Cup 2017, serta Community Shield 2016 di musim pertamanya. ([Wikipedia][6])
* Europa League 2017 menjadi momen penting karena membawa MU kembali mengangkat trofi Eropa.

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* Hubungan dengan sejumlah pemain memburuk, atmosfer ruang ganti disebut semakin toksik.
* Ia dipecat pada Desember 2018, dua hari setelah MU kalah 3-1 dari Liverpool di Anfield—laga yang sering dianggap puncak krisis.

5) Ole Gunnar Solskjaer (2018–2021): Romantis, Menyerang, Tapi Nol Gelar

Bagi fans, Ole Gunnar Solskjaer adalah figur emosional. Ia membawa “rasa MU” kembali: permainan cepat, transisi tajam, dan semangat muda. Awalnya, suasana Old Trafford kembali hidup. Namun, progres tersebut tidak pernah benar-benar berujung trofi.

Prestasi yang sempat dicatat

* MU sempat kompetitif dan konsisten di papan atas, termasuk fase ketika mereka terlihat “hampir jadi penantang”.

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* Poin terlemah Ole adalah ketidakmampuan mengubah momentum menjadi titel.
* Kekalahan paling menyakitkan adalah final Europa League 2021 saat MU gagal juara setelah kalah adu penalti dari Villarreal—laga yang jadi simbol “nyaris” dalam eranya.

6) Ralf Rangnick (2021–2022): Filosofi Besar yang Gagal Menempel di Skuad

MU menunjuk Ralf Rangnick sebagai manajer interim sekaligus otak proyek modern. Rangnick dikenal sebagai pionir gaya pressing intens. Namun, di United, idenya justru tampak tidak cocok dengan materi pemain yang tersedia dan kondisi ruang ganti yang sudah retak lebih dulu.

Prestasi yang tercatat

* Hampir tidak ada capaian signifikan secara trofi maupun pencapaian taktis yang konsisten.

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* MU terlihat kehilangan tenaga, tidak solid, dan mudah kebobolan.
* Periode ini dianggap memperjelas bahwa masalah MU bukan hanya soal taktik, tetapi juga struktur klub dan mental skuad yang rapuh.

7) Ruben Amorim (2024–2026): Ekspektasi Revolusi, Hasilnya Malah Bikin Fans Terbelah

Nama Ruben Amorim seharusnya adalah bab kebangkitan. Datang dengan reputasi taktik modern, ia diharapkan menjadi “reset button” MU. Akan tetapi, harapan itu berubah menjadi tekanan besar ketika sistem yang dibawanya justru memunculkan inkonsistensi dan masalah adaptasi.

Prestasi yang sempat didapat

* Tidak ada trofi yang berhasil ia persembahkan dalam periode ini.

Rekam jejak buruk yang paling diingat

* Skema permainan dianggap kaku dan sulit klik.
* Media internasional seperti ESPN menulis bahwa Amorim diberhentikan pada Januari 2026, menandai era yang dianggap gagal memenuhi target besar klub.

Bonus Harapan: Michael Carrick dan Debut Derbi yang Mengubah Setan Merah

Di tengah memori buruk dari daftar panjang itu, nama Michael Carrick muncul sebagai kejutan yang menyegarkan. Debut kepelatihannya bersama MU langsung mencuri atensi setelah membawa Setan Merah menang 2-0 atas Manchester City dalam derbi—hasil yang otomatis menaikkan ekspektasi publik.

Carrick jelas paham kultur klub. Ia bukan sosok yang datang dengan konsep revolusi penuh jargon, melainkan fokus pada hal dasar: organisasi pertahanan, transisi cepat, dan kontrol emosi. MU pun dijadwalkan menghadapi Arsenal pada 25 Januari 2026, laga yang akan menjadi ujian lanjutan.

Jika Carrick mampu menjaga ketenangan dan tidak terjebak eksperimen, hasil positif bukan mustahil didapat. Satu kemenangan derbi memang belum cukup untuk mengubah sejarah, tetapi setidaknya memberi MU sesuatu yang langka dalam satu dekade terakhir: alasan untuk berharap. (RM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *