Visual Nusantara – Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, Manchester United seperti memasuki era baru yang jauh lebih rumit. Status sebagai klub besar tetap melekat, namun konsistensi yang dulu jadi ciri khas perlahan memudar.
Pergantian pelatih terjadi berkali-kali, dan “rebuild” seolah menjadi kata yang terus diulang tanpa kepastian kapan benar-benar selesai.
Meski demikian, bukan berarti perjalanan MU setelah Ferguson hanya berisi kekecewaan. Ada beberapa pelatih yang setidaknya mampu memberi trofi, momentum, atau identitas permainan meski tidak selalu bertahan lama.
Berikut daftar 5 pelatih terbaik Manchester United pasca-Ferguson berdasarkan kombinasi prestasi, dampak, dan performa di laga besar.
1) José Mourinho (2016–2018) – Raja Trofi yang Paling “Instan”
Jika ukurannya murni trofi, maka José Mourinho adalah salah satu pelatih paling sukses MU setelah Ferguson. Ia datang dengan label spesialis juara, dan langsung membuktikannya lewat musim debut yang penuh gelar.
Prestasi utama
* Juara Europa League 2017
* Juara EFL Cup 2017
* Juara Community Shield 2016
Laga ikonik + tahun
* Final Europa League 2017, MU menang 2-0 vs Ajax dan menutup musim dengan trofi Eropa yang sangat penting.
Catatan kontroversial
Walau sukses instan, era Mourinho juga dikenal meninggalkan konflik ruang ganti dan atmosfer yang tegang hingga ia akhirnya diberhentikan.
2) Erik ten Hag (2022–2024) – Pembawa Trofi Domestik dan Disiplin Baru
Erik ten Hag datang dengan proyek yang relatif jelas: membangun tim modern dengan kontrol taktik dan disiplin. MU secara resmi mengumumkan penunjukannya pada April 2022 dan ia dikontrak hingga 2025 (dengan opsi perpanjangan).
Prestasi utama
* Juara Carabao Cup 2023 (trofi pertama MU sejak 2017)
* Mengangkat mental tim untuk kembali kompetitif di kompetisi domestik
Laga ikonik + tahun
* Final Carabao Cup 2023: MU juara setelah mengalahkan Newcastle United 2-0 (momen yang dianggap memutus “kutukan puasa gelar” era modern).
Catatan
Ten Hag cukup sering mendapat sorotan karena inkonsistensi permainan, tetapi secara trofi ia tetap termasuk yang paling berdampak pasca-Ferguson.
3) Louis van Gaal (2014–2016) – Punya Piala FA, Punya Warisan Pemain Muda
Louis van Gaal sering jadi perdebatan fans: ada yang menganggap sepak bolanya membosankan, namun banyak juga yang mengakui ia memberi MU sesuatu yang penting: trofi + regenerasi.
Prestasi utama
* Juara FA Cup 2016*
Laga ikonik + tahun
* Final FA Cup 2016: MU menang 2-1 vs Crystal Palace, jadi gelar besar pertama MU pasca-Ferguson.
Catatan
Ironisnya, Van Gaal justru dipecat setelah trofi itu diraih. Sky Sports menyebut keputusan klub diumumkan pada Mei 2016.
4) Ole Gunnar Solskjaer (2018–2021) – Tanpa Trofi, Tapi Bawa MU “Hidup” Lagi
Kalau bicara soal atmosfer dan energi, Ole Gunnar Solskjaer adalah salah satu yang paling berhasil. Ia membuat MU kembali terasa menyerang, lebih cepat, dan lebih emosional—meski akhirnya gagal mengubah progres menjadi gelar.
Prestasi non-trofi
* Membuat MU kembali stabil di papan atas
* Membawa tim ke banyak fase akhir kompetisi
Laga ikonik + tahun
* Banyak comeback besar yang jadi ciri khas era Ole, termasuk momen-momen dramatis yang memulihkan aura Old Trafford.
Titik jatuh
MU resmi mengumumkan Ole meninggalkan kursi manajer pada November 2021.
5) Michael Carrick (2026–?) – Start Kilat yang Menghidupkan Harapan
Nama Michael Carrick muncul sebagai “plot twist” terbaru di Old Trafford. Dalam situasi yang penuh tekanan, ia justru memulai dengan sesuatu yang jarang MU punya dalam beberapa tahun terakhir: kemenangan besar dengan kontrol permainan yang meyakinkan.
Alasan dianggap menjanjikan
* Lebih tenang secara taktik
* Tidak banyak eksperimen
* Fokus menguatkan struktur tim
Laga ikonik + tahun
* Derbi Manchester 2026: MU menang 2-0 vs Manchester City pada debut Carrick sebagai pelatih—hasil yang langsung memantik optimisme publik.
Catatan
Ini masih fase awal, sehingga Carrick belum bisa dinilai dari trofi. Tapi untuk ukuran “pembanding” dari era pelatih yang sering gagal, ia sudah memberi awal yang sangat kuat.
Kesimpulan: MU Punya Pelatih Bagus, Tapi “Proyek Panjang” Selalu Jadi Tantangan
Dari lima nama di atas, MU sebenarnya sempat punya momen kebangkitan. Mourinho memberi trofi Eropa, Ten Hag mengakhiri puasa gelar, Van Gaal memberi FA Cup, Ole memberi rasa “MU menyerang”, sementara Carrick membuka bab baru dengan kemenangan derbi yang menggetarkan.
Masalahnya, setelah Ferguson, MU sering gagal menjaga momentum. Ketika satu pelatih mulai membaik, muncul masalah baru: manajemen, transfer, ruang ganti, atau tekanan ekspektasi yang kelewat besar. (RM)
