VISUAL NUSANTARA – Taman Margasatwa Ragunan menjadi primadona di akhir pekan buat warga Jabodetabek yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, sambil menikmati kesejukan hutan kota dan melihat berbagai jenis binatang di kawasan Jakarta Selatan.
Selain sebagai tempat wisata, kebun binatang yang diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin di Pasar Minggu pada 22 Juni 1966 ini juga berfungsi sebagai tempat olahraga. Banyak orang yang melakukan aktivitas lari pagi maupun berjalan di sepanjang area tersebut, terutama Sabtu dan Minggu.
Tiket masuk Ragunan 2026 juga murah meriah, yaitu Rp4000 untuk dewasa dan Rp 3000 untuk anak usia 2-15 tahun, sementara anak usia 1 tahun dilarang masuk, karena usia 1 tahun belum paham arti ‘healing’ bagi umat manusia, dan cukup berbahaya ketika usia segitu ikut berdesakan di tengah lautan manusia ketika momen hari besar.
Banyak hal yang membuat Ragunan nyaman untuk dikunjungi, pohon-pohon yang menjulang dan bertebaran di hampir semua sisi membuat udaranya sejuk. Bagi warga Jakarta yang super padat, area-area seperti ini tentu menjadi ‘potongan surga’. Tempatnya juga bersih, para petugas rajin menyapu tiap pagi dan sore, sehingga hampir tidak ada sampah di sepanjang jalan.
Namun, meski secara umum saya nyaman untuk mengunjungi tempat tersebut, dan orang-orang yang ditemui juga cenderung ramah, saya pernah beberapa kali melihat atau bertemu jenis-jenis pengunjung yang menyebalkan. Inilah 3 jenis orang menyebalkan yang pernah saya temui di Kebun Binatang Ragunan.
BUANG SAMPAH SEMBARANGAN
Ragunan menyediakan tempat sampah yang banyak di setiap sudut maupun jalan, hal itu agar pengunjung tidak kesusahan untuk membuang sampah. Namun, masih ada orang yang enggan buang sampah di tempatnya, seperti botol plastik yang ditinggal begitu saja di bawah pohon atau malah dibuang di danaunya.
Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang semacam ini, bahkan ketika sudah disediakan tempat sampah sebanyak itu di sepanjang jalan saja masih ada orang yang malas buang di tempat yang semestinya. Memang sih jumlah orang semacam ini sangat sedikit dibandingkan pengunjung yang punya SDM tinggi, tapi beberapa kali saya temukan.

BIKIN ACARA di TROTOAR
Di Negara Kesatuan Republik Indonesia ternyata ada orang-orang yang tidak tahu fungsi trotoar, termasuk di Ragunan. Pernah beberapa kali ada rombongan yang memenuhi trotoar. Mereka bikin semacam acara di situ, seperti yel-yel, ngobrol lama, bahkan duduk dan bikin permainan.
Mereka tidak peduli ketika pengunjung lain terganggu atau tidak dapat memanfaatkan trotoar itu untuk digunakan semestinya, hingga akhirnya harus ditegur oleh petugas dengan tegas menggunakan pengeras suara untuk membubarkan acara.
Sebenarnya ada taman yang luas di Ragunan untuk digunakan duduk santai oleh pengunjung, termasuk pengunjung yang rombongan sekaligus, namun saya tidak habis pikir ada orang-orang yang lebih nyaman bikin acara di trotoar dibanding di taman yang luas.
ORANG yang MENGUSIR SECARA HALUS
Ini adalah jenis orang menyebalkan yang pernah sekali saya temui sepanjang pengalaman mengunjungi Taman Margasatwa Ragunan. Kisah menyebalkan ini terjadi ketika saya sedang makan bakso di salah satu sudut taman, yang melibatkan saya, istri saya, dan pembeli bakso lainnya yang datang rombongan.
Pedagang bakso tersebut memang tidak berjualan di food court atau warung, namun di sebuah tempat terbuka yang ada di area taman. Para pembeli disediakan tikar sebagai tempat makan di area taman tempat gerobak itu berdiri. Biasanya saya dan istri makan di tikar yang disediakan, seperti halnya para pembeli lainnya.
Pada satu waktu saya dan istri ingin menikmati bakso tersebut di sebuah tempat duduk umum yang kira-kira bisa diduduki 6 orang, tempatnya berdiri sekitar 15-20 meter dari tempat jualan bakso. Pada saat kami menikmati bakso, tiba-tiba ada rombongan emak-emak dan anak-anaknya yang datang dengan heboh.
Kami sebenarnya tidak masalah ada pengunjung lain yang duduk di situ karena memang itu tempat umum, namun yang jadi masalah adalah rombongan tersebut terkesan ‘sengaja’ mengganggu kami agar segera pergi, karena salah satu emak-emak meminta rombongannya untuk makan bakso di situ, padahal mereka ada 8 orang, sementara tempatnya kecil sehingga tidak cukup untuk ditempati 10 orang. Di sisi lain, kami juga baru makan.
Seorang rombongan mencoba menengahi dengan meminta sebagian rombongan duduk di tikar yang masih banyak kosongnya, namun emak-emak tadi tetap memaksa semua rombongan untuk duduk di situ.
Akhirnya kami tetap duduk di situ dan bersikap bodo amat sampai selesai makan, lalu cabut dari tempat itu.
Itulah 3 jenis orang menyebalkan yang pernah saya lihat dan temui di Kebun Binatang Ragunan. Harga masuk murah, petugas cenderung ramah, memiliki koleksi hewan yang menarik, dan areanya laus serta sejuk. Sebuah tempat healing yang layak direkomendasikan kepada warga Jakarta Selatan.
